campaign

Berita Kabar

img 14/04/2026

img Superadmin

Berita Kabar

70 Tahun Prof. Hermawan K. Dipojono: Dedikasi Membina Generasi

img 14/04/2026

img Superadmin

(Rumah Amal Salman, Bandung) — Di usia 70 tahun, Hermawan K. Dipojono terus menunjukkan dedikasinya dalam membangun peradaban melalui pendidikan, pembinaan karakter, dan pengabdian di masjid. Kiprah panjangnya menjadi refleksi dalam kegiatan bertajuk “70 Tahun Kiprah Prof. Hermawan K. Dipojono untuk Peradaban” yang digelar di Masjid Salman ITB pada Minggu, 5 April 2026.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Amal Salman ini tidak sekadar menjadi perayaan usia, tetapi momentum untuk melihat kembali jejak pengabdian seorang guru yang telah membentuk banyak generasi. Sosok yang akrab disapa “Mas Her” itu dikenal bukan hanya sebagai akademisi, tetapi juga pembina karakter dan penggerak dakwah kampus.

Apresiasi yang mengemuka dalam acara tersebut terasa istimewa karena datang dari para muridnya sendiri yang kini memegang peran penting di tingkat nasional. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengenang bagaimana peran sang guru membentuk arah hidupnya tidak terlepas dari doa serta bimbingan sang guru.

“Kala itu Mas Her berkata, ‘Semoga kamu jadi profesor dulu, kemudian jadi menteri.’ Hari ini, doa itu terwujud,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rektor Institut Teknologi Bandung, Tatacipta Dirgantara, yang juga merupakan murid Prof. Hermawan. Ia menilai gurunya sebagai sosok yang melampaui zamannya, tidak hanya dalam penguasaan ilmu, tetapi juga dalam menanamkan pentingnya kolaborasi dan kontribusi global.

“Bagi saya, Mas Her bukan sekadar guru, tetapi mentor dan teladan. Beliau tegas, rendah hati, dan sangat mengayomi,” tuturnya.

Kesaksian serupa datang dari berbagai murid lintas generasi. Mereka menyoroti kepedulian Prof. Hermawan terhadap mahasiswa, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sejak awal 2000-an, ia aktif membina mahasiswa penerima bantuan pendidikan, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga mental dan spiritual.

Di balik kiprah akademiknya, terdapat pilihan hidup yang menjadi fondasi pengabdian Prof. Hermawan. Ia kemudian membagikan prinsip hidup yang dipegangnya, yakni berlandaskan pada pengabdian diri sepenuhnya kepada Sang Cipta. Ia pernah menolak tawaran jabatan struktural di kampus demi tetap berkhidmat di masjid.

“Saya jawab, ‘Pak, saya takut dimarahi Allah.’ Saya ingin terus berkhidmat di masjid sebagai ungkapan terima kasih saya kepada Allah,” ungkapnya.

Keputusan tersebut menjadi penanda arah hidupnya: menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan peradaban. Sepulang dari studi doktoralnya di Amerika Serikat, ia memilih kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri di Masjid Salman ITB, terinspirasi oleh sosok Imaduddin Abdulrahim dalam membangun gerakan keummatan berbasis masjid.

Acara yang berlangsung hangat tersebut dihadiri sekitar 100 undangan dari kalangan tokoh, akademisi, keluarga, serta para murid lintas generasi. Momentum ini menjadi pengingat bahwa peran seorang guru tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hidup dalam jejak para muridnya dan dampak yang terus tumbuh di masyarakat.

Di usia 70 tahun, Prof. Hermawan K. Dipojono menunjukkan bahwa membangun peradaban tidak selalu melalui panggung kekuasaan, tetapi melalui ketulusan dalam membina manusia, menjaga nilai, dan mengabdi dengan sepenuh hati.***

Donasi Sekarang

Bagikan


Komentar (0)

Silakan Login untuk memberikan komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kami dapat menggunakan cookie atau teknologi pelacakan lainnya saat Anda mengunjungi situs web kami, termasuk bentuk media lain, situs web seluler, atau aplikasi seluler yang terkait, untuk membantu menyesuaikan Situs dan meningkatkan pengalaman Anda.

Accept All