Berita Kabar
13/04/2026
Superadmin
Berita Kabar
Anies di Masjid Salman, Zakat Tak Populer, Tak Mengubah Subtansi Pemahaman Masyarakat
13/04/2026
Superadmin
(Rumah Amal Salman, Bandung) — Disampaikan oleh Anies Baswedan ketika ia mengisi ceramah tarawih pada Selasa, 10 Maret 2026 di Masjid Salman ITB, menurutnya, perbincangan publik soal zakat yang sempat memicu pro dan kontra dinilai tidak mengubah pemahaman masyarakat. Menurutnya, polemik yang muncul di ruang publik lebih disebabkan karena luasnya akses informasi, bukan perubahan substansi pemahaman masyarakat terhadap zakat. Anies menambahkan, kesadaran masyarakat mengenai kewajiban zakat justru sudah terbentuk dengan baik. Zakat dipahami bukan sebagai bentuk kedermawanan semata, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan karena mengandung hak orang lain di dalam harta yang dimiliki. “Zakat itu bukan milik kita sepenuhnya, tetapi ada bagian yang harus dikeluarkan untuk membersihkan harta,” katanya. Lebih jauh lagi, sejarah mencatat, ketika masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sebagai contoh kesalehan pribadi yang diterjemahkan menjadi sistem yang adil melalui reformasi pajak dan pemulihan hak tanah, hingga pada masanya dikisahkan sulit menemukan penerima zakat. Dalam masa kepemimpinan sekitar 2,5 tahun, warisannya dikenang lebih dari 13 abad, menegaskan bahwa legacy bukan sekadar benda, melainkan sistem yang membentuk peradaban. Di sisi lain, ketika ditanya tentang bagaimana program sebuah lembaga zakat bisa berdampak, ia menyampaikan program-program lembaga zakat, khususnya beasiswa harus berbasis kebutuhan nyata penerima agar tidak sekadar meratakan penderitaan. Ia menambahkan, dalam praktiknya, pendekatan yang tidak tepat justru berisiko memperluas masalah. Oleh karenanya, penyaluran bantuan beasiswa perlu proporsional. Peradaban di era saat ini, dimana adanya masjid kampus yang aktif bisa berdampak besar untuk peradaban, lebih dari yang dibutuhkan saat ini. Peradaban sendiri tumbuh di kawasan urban, sebagaimana terlihat dalam perkembangan Islam di Mekkah sebagai pusat perdagangan dan Madinah sebagai masyarakat sipil yang terorganisasi. Ia lahir dari ruang publik seperti jalan, pasar, masjid, hingga kampus. Dalam sesi ceramah tersebut Anies banyak menyoroti tentang peradaban. Katanya, prosesnya berlangsung bertahap: diajarkan, dibiasakan, menjadi budaya, lalu mengakar sebagai peradaban. Ketika masih di level kebiasaan, ini masih di level individu, ketika dilakukan kolektif, dia menjadi budaya, ketika budaya, dia hampir permanen dia menjadi peradaban. Sementara islam menuntun kita untuk menghubungkan antara akhlak pribadi dengan struktur, hukum yang adil, ekonomi yang manusiawi, budaya yang memuliakan dan memberdayakan yang lemah. Kemudian kita bicara peradaban itu orang orang yang membawa adab yang luhur, maka ruang untuk latihan membangun peradaban itu ada di sekitar kita, dan kampus harus menjadi salah satu tempat, ruang untuk melatih tumbuhnya peradaban. “Karena kenyataannya kesalehan itu harus lahir dalam struktur masyarakat. Pribadi yang saleh jika terputus dari urusan publik, hanya akan menghasilkan kebaikan-kebaikan kecil yang tercecer.” katanya. Menutup sesi ceramah, Anies menyampaikan bahwa ke depan, arah peradaban dinilai ditentukan oleh pertarungan narasi, sementara rendahnya minat literasi dan berpikir kritis membuat Gen Z berisiko menjadi konsumen informasi. Karena itu, mereka didorong menjadi produsen gagasan serta menyeimbangkan kemampuan membaca data dan nurani dalam setiap pengambilan keputusan. Gen Z muslim harus belajar untuk bisa berperan di kedua kota ini tanpa kehilangan kompas. (Penulis: Dhea Rizky Amanda) ***
Donasi SekarangBagikan
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!