campaign

Berita Kabar

img 13/04/2026

img Superadmin

Berita Kabar

Rumah Amal Hadiri Peresmian Huntara untuk Korban Longsor Cisarua

img 13/04/2026

img Superadmin

(Rumah Amal Salman, Bandung) – Sahabat Amal, Rumah Amal Salman turut menghadiri acara peresmian penyerahan Hunian Sementara (Huntara) yang dilakukan oleh Rektor Institut Teknologi Bandung Prof. Tatacipta Dirgantara. Secara simbolis, Rektor menyerahkan satu unit hunian sementara (huntara) dan bantuan sembako bagi warga terdampak longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 19 Februari 2026.

Ia menyampaikan bahwa kehadiran ITB di Cisarua merupakan bagian dari misi perguruan tinggi untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat. Melalui program Desa Bangkit Cisarua, pola kerja kolaboratif antara dosen, mahasiswa, alumni, dan masyarakat menjadi model pengabdian yang harus terus dijaga.

“Mudah-mudahan model-model kerja seperti ini dapat menjadi contoh yang baik bagi kita semua untuk selanjutnya tetap bisa berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Ia juga menambahkan pola kerja kolaboratif juga sudah ITB lakukan sejak November lalu di Sumatera. Hingga hari ini kegiatan masih terus berlangsung di tiga provinsi.

Melalui program ini, lebih dari 250 warga menerima manfaat, termasuk penyaluran 110 paket sembako, 35 paket obat-obatan, serta 40 bantuan kesehatan. Selain itu, tersedia layanan ambulans, layanan kesehatan, layanan psikososial, dan asesmen pascabencana untuk mendukung pemulihan secara menyeluruh.

Kegiatan tersebut juga turut didukung oleh DPMK ITB, Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, dan Ikatan Alumni ITB. Kegiatan ini bertujuan memberikan respons kemanusiaan terpadu bagi masyarakat terdampak longsor, melalui fase tanggap darurat, pemulihan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi dengan penerapan teknologi tepat guna dan dukungan keahlian para pakar dari ITB. Program ini memberikan manfaat berupa terpenuhinya kebutuhan dasar, pemulihan kondisi psikososial, tersedianya hunian sementara dan akses air bersih yang layak, serta pulihnya kembali infrastruktur dasar masyarakat secara aman dan berkelanjutan.

Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Zulfiadi Zulhan, menyampaikan, sejak hari kedua bencana di Cisarua, ITB hadir dan membentuk empat tim: manajemen risiko kebencanaan, kesehatan, permukiman, serta air dan sanitasi.

Prof. Zulfiadi berharap hunian sementara yang diserahkan dapat menjadi awal pemulihan bagi warga terdampak. “Mudah-mudahan pada hari ini, hari pertama bulan Ramadan, hunian sementara ini bisa bermanfaat bagi ibu dan bapak yang terkena dampak dari bencana longsor ini. Mudah-mudahan ke depan kehidupannya membaik,” katanya. Ia juga mengatakan, sejumlah huntara akan dibangun lagi di beberapa titik di Pasir Kuning.

Dirancang Cepat, Dibangun Cepat

Ketua Tim Arsitek, Andry Widyowijatnoko, menjelaskan bahwa desain huntara mengutamakan kecepatan pembangunan serta pemanfaatan material yang mudah diperoleh saat bencana. Huntara seluas 6 x 6 meter yang diserahkan tersebut dirancang untuk menampung dua keluarga dengan total penghuni tujuh orang.

“Pada prinsipnya, saya mendesain bangunan ini dengan tujuan agar memanfaatkan kayu, karena ini juga ditujukan untuk program pasca bencana di Sumatra dan Aceh,” ujarnya.

Andry mengatakan, kecepatan pembangunan dalam kondisi bencana sangat penting. “Hal ini menyangkut hajat utama manusia, yaitu tempat untuk berlindung dan bernaung dari cuaca yang panas maupun dingin seperti yang ada di sini,” tuturnya.

Ia mengatakan, struktur bangunan dikembangkan dari sistem reciprocal frame yang disederhanakan menjadi modul-modul rangka sehingga dapat dirakit dengan cepat. Bangunan ini juga dirancang fleksibel. Panjangnya dapat diperluas dengan menambah modul rangka sesuai kebutuhan sehingga dapat menambah jumlah penghuni.

“Sistem struktur huntara ini bisa dibuat dalam modul-modul, kemudian disusun dan dibangun sehingga cepat sekali pengerjaannya. Huntara ini didirikan dalam dua hari,” katanya.

Selain itu, material lainnya dapat menggunakan produk lokal atau daerah sekitar. “Jadi idenya adalah mendirikan rumah seperti ini juga harus menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.

Sementara itu, bagi Ayi Kurniawan (43), warga yang rumahnya hanyut terbawa longsor, huntara tersebut menjadi secercah harapan baru.

“Dengan adanya fasilitas ini sangat membantu saya yang terkena musibah, yang rumahnya sudah tidak ada. Bagus sekali dukungannya dan senang ada dari ITB yang datang ke Kampung Pasir Kuning untuk membantu,” ungkapnya.

Peran Rumah Amal sebagai Lembaga Sosial di Cisarua

Masih dalam rangkaian respons kebencanaan, Rumah Amal Salman menjalankan peran strategis sebagai lembaga sosial yang mendukung megakomodasi para tukang dan pelaksana pembangunan, sehingga proses pembangunan hunian sementara dan infrastruktur dasar dapat berjalan efektif dan tepat waktu.

Keterlibatan ini melanjutkan rekam jejak Rumah Amal dalam berbagai misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana. Secara paralel, Rumah Amal juga terlibat dalam program pemulihan di Sumatera bersama Kampus ITB, khususnya dalam pembangunan fasilitas air bersih bagi masyarakat terdampak. Program masih berlangsung hingga saat ini sejak digulirkan November tahun lalu. ***


Donasi Sekarang

Bagikan


Komentar (0)

Silakan Login untuk memberikan komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kami dapat menggunakan cookie atau teknologi pelacakan lainnya saat Anda mengunjungi situs web kami, termasuk bentuk media lain, situs web seluler, atau aplikasi seluler yang terkait, untuk membantu menyesuaikan Situs dan meningkatkan pengalaman Anda.

Accept All