(Rumah Amal Salman, Bandung)— Perjalanan hidup Nasrul Ikhwan menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan karier profesional. Lahir di Kebumen pada tahun 2002, Ikhwan tumbuh sebagai anak kedua dari tiga bersaudara di keluarga sederhana. Ayahnya membuka bengkel sepeda di rumah, sementara ibunya membantu usaha tersebut sekaligus mengurus keluarga.
Sejak kecil, Ikhwan telah menyadari bahwa kondisi ekonomi keluarganya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, ia menempuh pendidikan dengan mengandalkan beasiswa sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. “Jika ingin melanjutkan sekolah, harus mencari beasiswa”, prinsip tersebut menjadi bekal Ikhwan untuk terus termotivasi.
Tekad itu semakin kuat saat ia duduk di bangku SMA. Pandemi Covid-19 justru membuka akses informasi yang lebih luas, termasuk peluang beasiswa. Ia berburu beasiswa, menjaga prestasi, dan memastikan tetap berada di jalur pendidikan. Bersama orang tuanya, Ikhwan berkomitmen untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa membebani keluarga. Meski sempat diarahkan untuk memilih sekolah kedinasan, ia tetap berupaya mengejar mimpinya masuk Institut Teknologi Bandung.
“Sebenarnya dulu dianjurkan orang tua untuk sekolah kedinasan saja, tetapi saya cenderung ingin kuliah di ITB atau ITS,” kata Ikhwan.
Sambil mencari ia kemudian berkesempatan bertemu dengan program Beasiswa Perintis Rumah Amal Salman. Program ini menjadi pijakan awal yang membawanya berhasil lolos ke ITB pada 2021, mengambil jurusan Teknik Mesin, bidang yang telah ia kenal sejak kecil melalui aktivitas di bengkel ayahnya.
Bagi Ikhwan, Beasiswa Perintis sangat berperan membentuk pribadi dan sosialnya. Latar belakang yang serupa, serta lingkungan dan relasi yang positif menambah semangat Ikhwan untuk terus berkomitmen menyelesaikan pendidikan agar memiliki masa depan.
“Saya beruntung ketika sedang mencari beasiswa, kemudian ada info Beasiswa Perintis sedang membuka pendaftaran. Saya lalui seleksi administrasinya, lalu saya diterima,” kata Ikhwan. “Beasiswa Perintis sangat berjasa karena sudah menjemput kami semenjak masih di SMA, yang masih menimbang-nimbang kampus serta jurusan. Di sini saya juga mendapatkan lingkungan dan relasi yang baik,” kenang Ikhwan dengan penuh semangat.
Meski capaian akademik tidak begitu menonjol, Ikhwan berhasil lulus dalam waktu empat tahun dengan IPK 3,43. Selama kuliah, ia aktif dalam berbagai kegiatan non-akademik, mulai dari kepanitiaan di lingkungan Masjid Salman, organisasi kemahasiswaan, hingga komunitas lintas kampus. Baginya, pengalaman di luar kelas menjadi sarana penting untuk mengembangkan diri.
Aktivitas yang padat sempat menjadi tantangan tersendiri. Ia kerap mengalami kelelahan hingga tertidur di kelas dan berdampak pada performa akademik di beberapa semester. Dari pengalaman tersebut, Ikhwan mulai belajar mengelola waktu, emosi, spiritual, serta prioritas agar tetap dapat berkembang secara seimbang.
Menjelang kelulusan, Ikhwan menghadapi pilihan karier yang tidak terduga. Ia sempat ragu ketika melihat peluang rekrutmen di Paragon Corp karena merasa latar belakang teknik mesin tidak linier dengan industri kosmetik. Namun setelah mempelajari lebih dalam, ia menemukan keterkaitan pada bidang research and development, khususnya pengembangan produk.
Keputusan untuk mencoba membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar satu bulan, Ikhwan berhasil melalui seluruh tahapan seleksi dan diterima di Direktorat Research and Development, Packaging Innovation and Development di perusahaan tersebut.
Lebih lanjut, Ikhwan bercita-cita membangun industri sendiri agar dapat membuka lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat lebih luas. Ia juga meyakini bahwa setiap perjalanan hidup, termasuk yang tidak direncanakan, merupakan bagian dari skenario terbaik.
Kisah Ikhwan menjadi gambaran bahwa perjuangan akan menemukan jalannya. Meski sempat terbatas, ia membuktikan dari ruang bengkel sepeda hingga ruang riset di industri nasional bisa diraihnya selama ada ketekunan, keberanian untuk mencoba, termasuk kemampuan untuk terus beradaptasi dalam setiap fase kehidupan. ***
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!