(Rumah Amal Salman, Bandung) - Di tengah keseharian yang sederhana, tersimpan kisah luar biasa dari seorang santri bernama Hamdan Mulyadi (29 tahun). Bagi Hamdan, hidup bukan sekadar menjalani rutinitas, tetapi tentang bagaimana terus bertumbuh, belajar, dan memberi manfaat bagi sesama.
Perjalanan Hamdan berubah sejak ia dipercaya menjadi teknisi lapangan di Green House iRAS yang dikelola oleh Rumah Amal Salman. Peran ini bukan hanya memberinya pekerjaan, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian dan keberdayaan diri.
Setiap hari, Hamdan memulai aktivitasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia memberi pakan ikan, menebar benih sayuran, memeriksa kualitas air, hingga memastikan tanaman tumbuh dengan baik. Namun pekerjaannya tidak berhenti di situ. Ia juga terlibat dalam proses pasca panen—melayani pembeli, menjual ikan dan sayuran, hingga berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar Green House.
Menariknya, Hamdan tidak hanya bekerja di balik layar. Ia juga aktif membuat konten tentang aktivitas di Green House. Baginya, berbagi ilmu dan pengalaman adalah bentuk kontribusi lain agar lebih banyak orang mengenal dan belajar tentang teknologi iRAS yang diterapkan di sana.
Meski memiliki tanggung jawab besar, Hamdan tetap menjaga identitasnya sebagai seorang santri. Ia rutin mengaji di waktu pagi, sore, dan malam hari. Keseimbangan antara pekerjaan dan ibadah menjadi prinsip hidup yang ia pegang teguh. Di tengah kesibukannya, ia juga dikenal sebagai anak yang berbakti, ia menyempatkan diri mengunjungi orang tuanya di Limbangan setiap dua hari sekali.
Selama lebih dari satu tahun bekerja, Hamdan telah melalui banyak proses pembelajaran. Ia tidak hanya belajar dari pengalaman, tetapi juga mendapatkan pendampingan langsung dari dosen ITB. Kesempatan ini awalnya membuatnya canggung, namun seiring waktu, ia mampu beradaptasi dan menjalin komunikasi dengan baik. Baginya, kesempatan ini adalah anugerah yang tidak semua orang miliki.
“Banyak pelajaran yang saya dapatkan di Green House. Masih banyak yang belum saya pahami, dan itu justru membuat saya ingin terus belajar,” ungkap Hamdan.
Dari proses tersebut, tumbuh sebuah mimpi besar dalam dirinya: memiliki Green House sendiri. Bukan sekadar untuk dirinya, tetapi agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Ia berharap Green House yang ada saat ini pun terus berkembang, sehingga semakin banyak orang yang merasakan dampaknya.
Kehadiran Green House di sekitar Pesantren Manbaul Ulum memang membawa perubahan nyata. Tidak hanya bagi Hamdan, tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Aktivitas ekonomi meningkat, suasana menjadi lebih hidup, dan berbagai program seperti Pasar Sembako Murah mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Tentu perjalanan ini tidak selalu mulus. Hamdan pernah merasakan kesedihan ketika banjir melanda dan berdampak pada Green House. Namun dari kejadian itu, ia belajar untuk mencari solusi, salah satunya dengan membuat saluran air agar kejadian serupa dapat diantisipasi.
Dalam melayani pelanggan, Hamdan juga menghadapi berbagai tantangan, seperti keluhan harga dan perbandingan dengan produk lain. Namun dengan kemampuan komunikasi yang terus diasah, ia mampu memberikan edukasi tentang kualitas produk yang dimiliki. Dari sini terlihat bahwa Hamdan tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga dalam hal kepemimpinan dan komunikasi.
Baginya, setiap tantangan adalah bagian dari proses. Ia tidak takut mencoba kembali setelah melakukan kesalahan. Ia percaya bahwa ilmu yang ia dapatkan hari ini akan menjadi bekal berharga di masa depan.
Kini, Hamdan bukan lagi sekadar santri. Ia adalah contoh nyata bagaimana kesempatan, kemauan belajar, dan ketekunan dapat mengubah hidup seseorang. Dari Green House sederhana, tumbuh harapan besar, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk banyak orang di sekitarnya.
“Mudah-mudahan Green House ini bisa lebih besar, berkembang, dan memberikan manfaat yang lebih luas,” harapnya.
Kisah Hamdan mengajarkan kita bahwa keberdayaan tidak selalu datang dari hal besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dan penuh keikhlasan. ***
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!